Akun Anonim, Mafia Politik dan Media

Pada awal tahun 2011 lalu, Indonesia sempat digegerkan dengan munculnya akun-akun twitter anonim yang dengan gigih menyerang pemerintahan SBY-Boediono. Sebut saja akun semacam @benny_israel, @gurita_gLoba atau @triomacan2000. Kicauan-kicauan para akun anonim tersebut konon sempat meresahkan pejabat pemerintah sampai-sampai terdengar isu bahwa akun-akun tersebut akan diawasi.

Walaupun tulisan-tulisannya cenderung bertendensi menyerang pemerintahan SBY, membaca kicauan-kicauan mereka di twitter sebetulnya dapat memberikan sudut pandang lain tentang intelijen dan dunia perpolitikan di Indonesia.Heboh akun anonim tersebut bertambah dengan munculnya satu akun anonim @lawanmafia di pertengahan tahun 2011.

Akun ini mendapat perhatian saya karena berbeda dengan akun-akun anonim lain yang terkesan memojokan pemerintahan SBY, @lawanmafia justru cenderung menyerang politisi (dan partai politik) lain di luar presiden, walaupun terkadang akun anonim ini juga menyentil pemerintahan SBY. Gaya bahasanya yang lugas, to the point dan cerdas mencerminkan jikalau si empunya akun adalah seseorang yang berwawasan. Bagi saya, membaca penuturan @lawanmafia di twitter seperti halnya kita membaca berita-berita investigatif yang sering kita baca di majalah-majalah semacam Tempo atau Gatra.

Salah satu “kicauan” yang menjadi perhatian saya adalah ketika @lawanmafia membahas tentang Mafia Politik di Indonesia. Menurut dia, sebenar-benarnya mafia bukanlah Preman-preman yang ditakuti di Jakarta semacam Hercules atau John Kei. Menurut @lawanmafia, Mafia yang sebenarnya-benarnya adalah mereka-mereka yang memiliki akses pada pengambilan kebijakan (baca: politik) dan akses pada informasi (baca : media).

Dengan kriteria tersebut, maka pihak-pihak yang menurut @lawanmafia bisa dikategorikan sebagai mafia politik itu diantaranya adalah ARB (Abu Rizal Bakrie) dengan TV One & ANTV-nya, SP (Surya Paloh) dan HT (Harry Tanoe) dengan Metro TV & MNC Groupnya serta HR (Hatta Rajasa) yang menggandeng CT (Chairul Tanjung) dengan Trans Corp-nya.

Tokoh-tokoh tersebut – menurut pandangan @lawanmafia – sangatlah berbahaya karena selain mengarahkan kebijakan melalui partai politik yang mereka pimpin, juga bisa mengarahkan opini masyarakat melalui media-media yang mereka kuasai.

Terlepas benar tidaknya berita tersebut, saya sepakat dengan akun @lawanmafia bahwa perkawinan antara media dan partai politik tidak akan pernah baik. Karena media sejatinya merupakan fungsi kontrol terhadap pemerintah yang sebenar-benarnya.

Sidney Sheldon, pengarang novel ternama asal Amerika pernah menulis bahwa ada dua orang yang paling berpengaruh di dunia ini. Yang pertama adalah Presiden Amerika Serikat dan yang kedua adalah Penguasa Media. Ucapan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan betapa kuatnya peran pemilik media hingga bisa disejajarkan dengan presiden adikuasa semacam Amerika.

“Perkawinan” antara pengambil kebijakan dan  media dapat menciptakan kekuasaan yang mendekati absolut. Dan kita tahu, bahwa absolute power, corrupt absolutely. Masih terekam dalam memori saya ketika ditahun 80 – 90an dimana informasi dikuasai oleh pemerintah melalui TVRI dan RRI. Yang kita dengar hanyalah keberhasilan-keberhasilan kita menjadi macan Asia, tanpa kita sadari kebobrokan didalamnya, dan kita semua mengetahui akhir ceritanya.

Begitu mudahnya kita diperdaya oleh para penyiar-penyiar bermuka manis ketika memberitakan berita sesuatu yang BELUM TENTU BENAR. Begitu mudah juga kita mengambil kesimpulan yang salah dengan membaca sepenggal running text di TV.

Saya bahkan tidak bisa menyembunyikan keterkejutan saya ketika seorang  Jimly Asshiddiqie – mantan Ketua Hakim Konstitusi yang dikenal cerdas – menyentil Denny Indrayana (Wamenkunham) karena kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu. Ketika memberikan Kuliah Umum di UPI Bandung beberapa waktu lalu, Jimly mengingatkan para peserta kuliah umum agar tidak meniru sikap Denny yang menjadi arogan ketika berkuasa dan menjabat dengan menampar sipir penjara.

Sebagai sesama akademisi yang terbiasa berbicara berdasarkan fakta dan data, pernyataan beliau membuat kening saya berkerut. Apakah ybs belum membaca secara utuh berita “penamparan” tersebut? Ataukah beliau telah menjadi korban pemberitaan dari media-media mainstream? Perhatikan saja judul-judul berita yang dibuat dimedia-media mainstream tersebut seperti “Arogansi Denny” atau  “Wamenkumham Menampar Sipir Penjara?”

Andai saja beliau rajin dan cermat melakukan investigasi berita di media-media non-mainstream, niscaya ybs akan mendapatkan sudut pandang lain jikalau yang melakukan tindakan kekerasan adalah ajudan dari Wamenkunham tanpa seijin dari Denny.

Poin yang bisa diambil dari kejadian tersebut adalah betapa kuatnya peran media massa dalam menciptakan opini masyarakat. Tidak hanya kalangan masyarakat bawah, namun juga dikalangan intelektual seperti Jimly Asshiddiqie. Betapa berbahayanya ketika suatu pihak yang memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan, juga memiliki kekuatan dalam mengarahkan opini masyarakat luas.

Dititik ini, saluran-saluran informasi independen baik melalui jejaring sosial maupun blog menjadi sangat penting sebagai berita penyeimbang untuk media-media maisnstream. Semua berita tidak dapat dipercaya begitu saja, termasuk juga berita-berita yang berasal dari akun anonim @lawanmafia bahkan juga berita dalam blog saya ini. Kunci utama bagi anda sebagai pembaca adalah investigasi ulang dan verifikasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s