Memaknai Plagiarisme

Ketika tiga orang calon guru besar upi dituduh melakukan plagiat, beragam reaksi bermunculan. Mulai dari  mereka yang berempati hingga mereka yang menghujat. Sebagian mencoba memahami masalah secara  utuh, sebagian lagi hanya melihat secara parsial.

Mereka yang memahami secara parsial umumnya dikarenakan tidak mengetahui makna plagiarisme yang sebenarnya, sehingga oleh sebagian orang dipahami secara sangat sederhana, misalnya dengan mengutip dari wikipedia [1] :

Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.

Hanya dengan bermodalkan wikipedia, yang pertama muncul di benak kita ketika seseorang dituduh plagiat maka secara de facto yang bersangkutan telah melakukan penjiplakan dan pengambilan karangan orang lain dan mengakuinya sebagai pendapat mereka sendiri. Titik

Sedikit ruang bagi para tertuduh plagiat untuk mendapatkan empati agar dipahami masalahnya secara utuh. Termasuk hukuman yang “pantas” . Namun, apakah pengertian plagiarisme itu sesederhana seperti yang tertulis dalam wikipedia?

Dengan mengutip beberapa literatur, Sudigdo mengklasifikasikan plagiarisme dalam empat jenis. Pertama, plagiarisme berdasarkan aspek yang dicuri, terdiri dari: plagiarisme ide; plagiarisme isi (data penelitian); plagiarisme kata, kalimat, paragraf; dan plagiarisme total. Sementara itu, Biggs (2003:129) mengungkapkan bahwa level plagiarisme dapat dibagi menjadi empat tingkatan

  1. Repetition; menyalin dari sumber yang tidak diberitahukan. Umumnya isi materi tidak dapat dipertanggung jawabkan dan struktur tulisan sama dengan sumber.
  2. Patching; menyalin dan menghubungkan  beberapa kalimat dari berbagai macam sumber dengan kata penghubung. Sumber tulisan secara umum dicantumkan walaupun tidak secara spesifik. Struktur tulisan yang buruk namun lebih sulit diidentifikasi dari pada repetition.
  3. Plagiphrasing; parafrase beberapa sumber dan menggabungkannya. Seluruh sumber berada dalam daftar referensi, tapi halaman tidak dicantumkan. Penulisan yang masih multistruktural dan secara teknis tetap tidak bisa diterima.
  4. Conventional Academic Writing; ide tulisan diambil dari beragam sumber dan dikemas ulang untuk membedakan dari sumber tulisan. Kutipan telah sesuai dengan kaidah penulisan referensi, sumber-sumber tulisan diketahui. Namun walaupun pengemasan tulisan berbeda, tapi orisinalitas ide tetap dapat diperdebatkan.

Umumnya para penuduh plagiat – terlepas mengerti atau tidak – akan menuduh tertuduh sebagai plagiator repetition. Menyalin tulisan tanpa menyebutkan sumber, seperti yang dilakukan sebagian orang terhadap para calon guru besar yang menjadi tertuduh plagiat tersebut. Padahal dengan berlandaskan kategori yang dikemukakan oleh Biggs diatas, ada kemungkinan kita – mahasiswa dan dosen -pun adalah plagiator di level yang lain.

Sejujurnya, saya sering membuat tulisan yang idenya muncul dari rangkuman beragam bacaan dan pengalaman yang saya dapatkan semasa hidup. Terkadang ide tulisan muncul seperti kaleidoskop dari endapan pengalaman, dan tulisan-tulisan yang pernah saya baca belasan tahun lalu. Tentu saja sumber dan penulis tulisan-tulisan tersebut sudah hilang entah kemana.

Artinya jikalau kemudian saya membuat tulisan – yang salah satu sumber idenya adalah ingatan dari bacaan belasan tahun yang lalu – maka dalam kategori Biggs saya setidaknya adalah plagiator Plagiphrasing atau plagiator tipe Conventional Academic Writing. Tentu saja tidak ada niatan untuk melakukan plagiasi pada saat saya menulis tulisan teresebut. Inamal A’malu binniyat. Segala amalan tergantung pada niatnya, begitu menurut hadis.

Dan jika kita mencermati klarifikasi dari seorang calon guru besar tertuduh plagiat tersebut di koran Pikiran Rakyat beberapa waktu lalu, bolehlah kita mengambil kesimpulan bahwa tidak ada niatan dari yang bersangkutan untuk melakukan plagiat. Apakah ybs bersalah? Tentu saja. Beliau bersalah karena tidak cermat dalam menulis (menterjemahkan) dan merugikan hak  orang lain (Penulis sumber). Titik. Tapi bagi saya, alih-alih mencerca dan menghujat para tertuduh plagiat, insiden plagiat oleh para calon guru besar tersebut hendaknya menjadi refleksi bagi kita untuk memahami makna plagiat dengan lebih baik. Bukan tidak mungkin kita sebenarnya adalah plagiator-plagiator pada level yang lain berdasarkan kriteria yang diungkap oleh Gibbs. Kita harus ingat, ketika kita menunjuk jari pada seseorang, ada empat jari lain yang menunjuk pada kita.

Sumber Referensi :

http://aceh.tribunnews.com/2012/02/25/menyekolahkan-plagiarisme

Biggs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s