Jangan pernah putus asa mencintai Republik (Indonesia)

Sering kita mendengar bahwa korupsi di Indonesia sudah menjadi budaya. Ironis memang, karena pengertian budaya itu sendiri menurut Koentjaraningrat adalah daya budi yang berupa cipta, karsa dan rasa manusia. Artinya, korupsi di Indonesia merupakan hasil cipta, karsa dan rasa masyarakat Indonesia. Dan jika korupsi adalah budaya, maka sesuai kaidah bahasa Indonesia, para koruptor bisa juga kita sebut sebagai budayawan.

Kalo hal tersebut sampai terjadi, budayawan-budayawan “asli” semacam Sudjiwotedjo atau Emha Ainun Nadjib pastilah akan berteeriak protes.😀

Kalimat “Korupsi sudah membudaya” bagi saya lebih pada sifat permisif orang Indonesia ketika mendapati kondisi “korup”, seperti membayar untuk mempercepat pembuatan KTP, SIM atau Paspor.

Satu sekolah menengah atas di Jawa Tengah melakukan doa bersama di MAKAM KYAI besar ketika akan menghadapi Ujian Nasional. Setiap tahun mereka melakukan ritual tersebut. Hasil dari doa bersama tersebut – ditambah dengan kerja tim sukses sekolah -terbukti manjur karena dapat meluluskan 100% siswanya. Walaupun belum bisa dibuktikan secara ilmiah, mana yang lebih kuat pengaruhnya antara ritual doa di makam kyai atau hasil kerja tim sukses terhadap kelulusan 100% siswa di sekolah tersebut.

Jikalau kelulusan 100% tersebut adalah hasil dari doa di makan Kyai, sebaiknya seluruh SMA di pulau Jawa turut berdoa disana agar diberi kelulusan UN 100%. Saya teringat pada satu chapter dalam novel Laskar Pelangi ketika Mahar, salah satu tokoh yang tertarik pada okultisme, meminta pertolongan Tuk Bayan Tula, orang pintar di Pulau terpencil agar memberikan kunci jawaban untuk ujian di esok hari. Untuk mendapatkan kunci jawaban tersebut, dikisahkan bahwa Tuk Bayan Tula kemudian susah payah bertarung dengan makhluk imajiner hingga akhirnya dia mendapatkan secarik kertas berisi kunci jawaban.

Pada keesokan harinya ketika ujian hendak dimulai, Mahar membuka kunci jawaban yang didapat dari Tuk Bayan Tula hanya untuk menemukan tulisan “KALAU INGIN LULUS UJIAN: BUKA BUKU, BELAJAR”

There is no such thing as a free lunch

Kelulusan UN 100% karena berdoa di Makam Kyai terkenal sepertinya tidak akan pernah masuk kedalam akal sehat siapapun. Satu-satunya implikasi logis kelulusan UN 100% mungkin dikarenakan peran Tim Sukses sekolah yang melakukan berbagai cara untuk lulus.

Permasalahannya, bila 100% kelulusan tersebut benar-benar hasil dari tim sukses, kita sebagai bangsa berhak untuk khawatir. Para generasi muda, pelajar dan mahasiswa yang merupakan garda terdepan dalam meneriakkan anti korupsi, justru diajak untuk berada di garda terdepan juga untuk melakukan kecurangan. Bukan tidak mungkin jika generasi kepemimpinan bangsa yang dianggap korup saat ini hanya akan diganti oleh generasi korup berikutnya.

Tidak pernah ada calon pejabat yang bercita-cita menjadi koruptor, tapi toh ketika menjadi pejabat, banyak yang kemudian menjadi terpidana kasus korupsi

Walaupun belum pernah dilakukan penelitian, namun nampaknya tidak sedikit masyarakat indonesia yang nampaknya hilang harapan dengan negara ini. Seperti yang dikisahkan pandji dalam ebook-nya yang berjudul Nasional.is.me, pernah suatu waktu sepasang suami istri datang dan memohon pinjaman uang sebesar 50 juta kepada Pandji. Pinjaman uang tersebut akan digunakan oleh pasangan tersebut untuk mengurus keberangkatan mereka ke Amerika setelah mereka mendapatkan green card.

“Kami ingin mengubah nasib”

Itu ujar mereka. Sungguh ironis…
Pasangan tersebut memerlukan setidaknya 200 juta untuk pergi ke Amerika. 100 juta sebagai deposit untuk membuktikan bahwa mereka sanggup hidup di Amerika setidaknya selama 3 bulan pertama. 50 juta untuk biaya birokrasi dan administrasi lain, dan 50 juta sebagai biaya tiket pesawat untuk satu keluarga. Padahal dengan uang 200 juta, mereka bisa mengubah “nasibnya” di Indonesia. Mereka – dan mungkin juga banyak rekan-rekan TKI lainnya – terbius dengan mimpi kesuksesan bekerja di luar negeri. Bagi pasangan tadi, daya tarik American Dreams tampaknya begitu mempesona. Bagi pasangan tersebut, negara tercinta kita Indonesia sudah tidak memiliki harapan.

Apakah Indonesa betul-betul tidak memiliki harapan?

Tanyakan pada David Samuel dkk, pemenang kompetisi software tingkat dunia. Tanyakan Stephanie Senna dan Diptarama, Juara Umum Olimpiade Sains Yunior Internasional, atau tanyakan pada Prof.Dr.Ing BJ Habibie, pemegang 46 paten di bidang Aeronautika. Apakah Indonesia tidak memiliki harapan? Saya yakin mereka semua akan menjawab “PASTI”. Karena itu, seperti yang pernah diungkapkan oleh Sri Mulyani, pada pidato perpisahannya sebelum menjabat sebagai direktur pelaksana Bank Dunia.

“Jangan pernah putus asa mencintai Republik (Indonesia)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s