Write!!

No thinking – that comes later. You must write your first draft with your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is… to write, not to think!

– William Forester dalam Finding Forester –

Beberapa waktu lalu, ketika membaca tugas makalah beberapa orang mahasiswa.  Saya menemukan makalah yang memiliki kemiripan isi. Tentu sudah merupakan cerita lama ketika mahasiswa mencoba keberuntungan dengan sekedar copas isi makalah dari teman dan berharap aksinya tidak diketahui dosen. Namun yang menarik, hanya paragraf pertama dan kedua saja yang memiliki kemiripan. Paragraf berikutnya dari makalah –makalah tersebut berbeda dan memiliki muatannya masing-masing.

Fenomena ini menjadi renungan saya. Bukan karena ragu dalam memberikan penilaian, tapi karena betapa kejadian tersebut menggambarkan kesulitan seorang penulis pemula dalam memulai kalimat dan paragraf pertama untuk setiap karya tulisnya.

Seperti cerita Jamal, seorang anak muda dalam film Finding Forester yang dituduh plagiat oleh professor-nya, karena karya tulisannya memiliki kemiripan dengan karya penulis kenamaan, William Forester.

Walaupun jamal memiliki bakat menulis yang luar biasa, namun dia selalu memiliki kesulitan untuk memulai tulisan. Hingga akhirnya dia bertemu dengan William Forester, penulis legenda pemenang pullitzer. William banyak membantu jamal dalam membentuk struktur berpikir penulis, termasuk meminjamkan tulisannya untuk digunakan sebagai paragraf pembuka oleh Jamal dalam satu karya tulisnya. Singkat cerita, walaupun paragraf berikutnya merupakan hasil karya Jamal sendiri, namun dirinya tidak lepas dari tuduhan plagiat dari sang professor. Kelanjutan film pun seterusnya berkisah pada perjuangan Jamal mempertahankan argumentasinya tentang keotentikan tulisan yang ia buat.

Memulai menulis memang terlihat sulit, karena kebanyakan dari kita lebih memilih untuk berfikir “keras” terlebih dahulu. Padahal proses berfikir “keras” sebenarnya dapat dilakukan setelah draft tulisan selesai. Mungkin memang disitulah masalah para penulis pemula. Mereka ingin tulisan mereka langsung menjadi tulisan “Final” tanpa perlu menjadi “draft”. Atau paling tidak itu yang sering saya rasakan diawal-awal menulis. Padahal – seperti yang diungkap oleh William Forester – yang harus dilakukan pertama ketika menulis adalah dengan “MENULIS” bukan berpikir.

Here’s the formula to write…

First : Write, Read, Think and Edit

Second : Re-read,  Re-think and Re-edit

Lastly : Re-read, ReThink and Re-edit again….

Cheers…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s